Sekapur Sirih dari Penulis

Terlahir di tengah keluarga yang sederhana dari orang tua yang berbeda suku, kini sudah menjalani berbagai macam liku kehidupan hidup. Masa kecil di daerah multi ras & kedua orang tua yang selalu berkomunikasi dalam bahasa Indonesia membuatku tidak mengetahui bahasa daerah satupun dari mereka berdua. Musibah kecil mengharuskan keluargaku pindah dari kampung kecilku ke Kota Kecil ini. Meninggalkan sukses kecil membuat kami memulai kehidupan dari nol lagi. Mendapat tanah kosong dari keluarga ibu yang berada di lokasi dekat sungai harus kami terima sebagai ganti rumah kebanggaan dulu. Seluruh tabungan sedikit demi sedikit habis untuk membiayai kehidupan baru sembari beradaptasi dengan kebiasaan yang baru pula. Kemanjaan diantar ayah kesekolah dengan motor digantikan mengayuh sepeda demi mengejar cita-cita. Kemudahan akses jalan di rumah dulu harus bersabar melewati belakang rumah tetangga dan jalanan berdebu di kala panas & becek di kala hujan di tempat baru. Subhanallah walhamdulillah kami bisa bertahan sampai sekarang meskipun tetesan air mata, peluh, & darah senantiasa menemani kami mempertahankan napas agar tetap terhela & jantung agar tetap berdegup.

"Hidup adalah pilihan" kalimat itu banyak benarnya. Apa yang kita dapatkan, apa yang kita peroleh, apa yang kita hadapi besok adalah hasil dari apa yang kita pilih hari ini. Apa yang kita banggakan, apa yang kita syukuri, apa yang kita sesalkan adalah hasil pilihan kita kemarin. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberi petunjuk, diberi ketetapan hati pada pilihan yang terbaik disaat kita diperhadapkan pada pilihan-pilihan. Salah satu Kunci dari kesuksesan adalah kesabaran. Jangan gegabah dalam mengambil keputusan.

 Banyak kisah sukses selalu dimulai dari ketiadaan. Penulis buku Laskar Pelangi, Andrea Hirata harus memulai pendidikannya di sekolah yang bangunannya hampir rubuh. Motivator kondang Andri Wongso kesuksesannya dimulai dari ketiadaan pendidikan hingga tidak lulus SD. Bahkan dalam dongengpun kisah bahagia selalu mengambil tempat di akhir cerita. Cinderella harus menjalani siksaan ibu & saudara tiri untuk akhirnya dinikahi sang pangeran. Rapunzel harus menjalani kurungan di menara oleh penyihir jahat untuk diselamatkan pemuda & hidup bahagia di istana. Bukankah segala sesuatu menjadi begitu bernilai ketika kita mendapatkannya melalui pengorbanan? Bukankah sebuah cerita menjadi menarik karena kemunculan masalah?

Allah tidak melihat seberapa buruk kita memulai hidup ini tetapi Dia melihat seberapa baik kita mengakhiri hidup ini. Ya... akhir nampaknya menjadi point penting dalam hidup kita. Itulah mengapa ada Hari Akhir, hari yang menentukan kita bahagia atau sengsara selamanya.

Mungkin ada yang bertanya mengapa aku harus menulis seperti ini. Ini semua tercipta dari pengalaman. Sungguh benar pepatah yang mengatakan "pengalaman adalah guru terbaik". Sepertinya kita tidak perlu mengeluh di kala sakit karena dengan begitu kita bisa merasakan kembali betapa nikmatnya di kala sehat. Dan mungkin akan lebih mensyukuri & menjaga di saat kembali sehat. Tidak perlu menyesal & putus asa di saat gagal karena dengan begitu kita akan lebih menghargai kesuksesan yang bakal kita raih. Barangkali akan membuat kita lebih tawadlu lagi terhadap sesama.

Pertanyaannya sekarang adalah haruskah kita melalui itu semua untuk bisa menjadi orang yang bersyukur & tawadlu? Aku rasa tidak, cukuplah anda menjadi orang yang bijak yang bisa menyerap sari-sari hikmah dari pengalaman seseorang & menerapkannya di kehidupan keseharian anda. Jangan terlalu sering melihat keindahan bintang-bintang di langit sehingga lupa akan tanah yang senantiasa setia menopang kita di saat berdiri. Apa yang kita miliki sekarang insya Allah adalah apa yang kita butuhkan sekarang.

 Entah kita sadar atau tidak bahwa semakin tinggi tingkat penghasilan seseorang semakin besar pula kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Sehingganya kekayaan & kebahagiaan itu tidak tergantung dari banyaknya materi yang kita miliki tetapi bagaimana kita menyikapi keberadaan materi itu sendiri. Walau sedikit tetapi mampu menggoreskan senyum di wajah kita & keluarga kita itu sudah merupakan kebahagiaan & kekayaan yang tak ternilai harganya. Karena kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan di akhirat kelak dimana tak ada batasan dari Tuhan untuk menikmatinya.

Berapa lama kita bisa menikmati kenikmatan dunia ini? 60 tahun? 70 tahun? Itu terlalu singkat untuk menyelami semuanya. Dikurangi usia balita kita yang entah bagaimana kita habiskan karena tidak mengerti apa-apa. Dikurangi masa tua kita yang semakin pikun, rapuh. Wajah tampan & cantik yang kita banggakan perlahan tapi pasti memudar & mengeriput. Sungguh tak ada yang abadi. Yang abadi adalah amal kita. Apa itu amal? Amal dapat didefinisikan dalam berbagai sudut pandang. Dalam hal ini amal kita titik beratkan pada perbuatan baik kita terhadap sesama. Bagaimana kita memperlakukan orang lain sehingga menimbulkan kecintaan, kasih sayang yang akan selalu diingat oleh mereka di kala kita sudah tiada. Ingatlah, sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.

Semoga kita semua bisa menjadi manusia baik tersebut & memanen kebahagiaan di akhir kelak.
Amin

ambillah apa yang baik & buanglah apa yang terasa buruk dari blog saya ini.
Terima kasih

Salam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Meme & Giveaway April 2013] Kitab Mantra Standar Karya Miranda Goshawk

[Wings #1] Telaah buku Wings (Sayap Peri) Karya Aprilynne Pike

CARA KELUAR KEANGGOTAAN GROUP DI FACEBOOK