[Meme & Giveaway February 2013] Best Couples In Harry Potter Series

Tulisan ini dibuat dalam rangka berpartisipasi pada Hotter Potter Event Monthly Meme & Giveaway Februari 2013 yang diadakan oleh Surgabukuku.com

dengan Topik

Siapa pasangan (kekasih atau suami-istri) favoritmu dari keseluruhan cerita Harry Potter?

Awal membaca pertanyaan meme bulan ini, membuatku cukup bingung hingga sempat memutuskan belum bisa ikutan.
Bukan apa-apa tetapi karena belum membaca keseluruhan buku Harry Potter membuatku tidak punya cukup ide untuk menentukan pasangan favorite.
Walaupun spoiler sudah mewabah dimana-mana melalu filmnya, tetap aku tidak bisa merasakan touch romance yang aku yakin akan sangat kuat melalui bukunya.
"Kenapa topiknya seperti ini?" Protesku dalam hati "Bukankah pasangan-pasangan para tokoh disimpan Jk Rowling sebagai misteri di akhir cerita padahal reading massalnya baru saja memasuki buku ke-2." " too early!" Sahutku
Tetapi kemudian aku sadar juga, topik ini muncul tidak lepas dari hari yang dianggap special di bulan Februari. Hari Kasih Sayang!

Tetapi beberapa hari kemudian sebuah ide mencuat pula di kepala. Teringat kembali tujuan meme ini lebih kepada kreativitas kenapa tidak aku menulisnya.
Nah jika melihat picture di bawah ini, rasa-rasanya merekalah the best couple in Harry Potter series!



Bagaimana tidak, dalam photo ini kedua pasangan terlihat begitu serasi & elegan. Abviously makes me jealous.
Walaupun kesannya main tampang, tapi lihatlah! Cedric Diggori murid jangkung Hufflepuff, berparas rupawan, smart, cool but Humble.
Berpasangan dengan Cho Chang gadis manis Ravenclaw,
berwajah asian (baca: baby face), pemalu, baik & pastinya pintar (kan dari Ravenclaw).


Bisa aku bayangkan ke egoisan seekor elang akan banyak teredam oleh sifat membuminya Luwak Hufflepuff.
Dan ke low profilannya Cedric, akan diimbangi dengan kecerdasan Cho Chang yang senantiasa mengangkasa. Cerdas mengatur keuangan keluarga, bijak mengasuh anak-anak, berperilaku terhormat di hadapan client suami (loh koq?) Kurasa mereka akan bisa saling mengisi & melengkapi.
Jika kelak mendapat keturunan, coba kita lihat betapa blasterannya anak mereka.

Sayang sekali kedua insan ini harus terpisah oleh maut di saat benih-benih cinta mulai tumbuh di antara mereka.

Dan aku harusnya tau, pesona Cedric seyogianya bakal mampu menyaingi kepopuleran Harry Jika JK Rowling tidak segera mewafatkannya di akhir cerita buku 4.


Cedric yang malang!
kamu ibarat kembang api yang dipancarkan...
Merekah di angkasa malam.. 
Indah..
Berwarna-warni..
Membawa perasaan damai & bahagia..
Tapi memiliki limit..
Belum puas rasanya mata memandang..
Tetapi pada akhirnya menghilang..
Menyisakan selongsong asap..
Perlahan memudar...
Lalu lenyap menampakkan kembali kelamnya langit malam..

***


2 HOURS AFTER MY PASSED AWAY (CEDRIC DIGGORY)

Kurasakan permukaan lantai yang kasar & lembab saat aku tersungkur dari entah apa yang membuatku begitu terengah-engah dengan keringat yang membasahi sekujur tubuhku. Seluruh persendianku terasa ngilu sekali. Hal terakhir yang aku ingat adalah seberkas cahaya hijau melesat menerjangku hingga kurasakan rasa sakit tak terhingga bagai dikuliti hidup-hidup. Ada wajah aneh sepucat mayat yang menghunuskan tongkat sihir kepadaku & seorang anak laki-laki yang berteriak histeris yang aku kenal sebagai adik kelasku Harry Potter.

Kupandangi ruangan kosong tempat ku berada saat ini, begitu remang-remang hampir gelap dengan hanya seberkas cahaya putih yang memancar dari kejauhan. Dinding-dindingnya kasar & berlumut bagai terpahat dari batu. Ku mencoba berdiri tapi rasa lelah yang masih kurasakan membuatku sedikit linglung. Rupanya aku masih memakai seragam kuning triwizard yang sekarang tampak sangat kumal oleh debu.

“Inikah rasanya kematian?” suaraku sedikit menggema dalam ruangan itu.
“apakah ini akhirat?” aku menoleh kanan kiri memperhatikan ruangan dengan seksama.
“mungkin saja” tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku dari arah belakang.
Sebuah bola cahaya putih terang kini menyinari tempat itu.
“si.. siapa kau?” Tanyaku ketakutan

Bola cahaya itu mulai turun ke lantai dan mulai membentuk tubuh manusia.
Kini seorang wanita jangkung yang mengenakan dress chiffon putih telah berdiri di hadapanku. Sekeliling kepalanya tampak bercahaya dan Rambutnya yang coklat tergerai anggun hingga membuatnya tampak berwibawa.
Wanita itu tersenyum padaku.

“Apakah kamu tuhan?” tanyaku lagi sangat penasaran.
“Tuhan? Apa itu?” jawabnya balik bertanya
Tak dapat dipercaya dia tidak mengenal kata itu.
“Tuhan, yang menciptakan kehidupan, menghidup dan mematikan makhluk.” Jelasku
 “oh..jadi seperti itu cara kalian menyebut Aurora” jawabnya antusias
Ha? Aurora? Aku teringat polisi sihir yang bertugas memerangi penyihir hitam di duniaku. Cuma beda di huruf A doang.

“Iya kamu benar, aku Aurora, Aurora Meyer” lanjutnya
Jawabannya yang bersahabat membuatku cukup lega, paling tidak detak jantungku tidak sehebat tadi.

“sayang sekali kau harus berada di Odyssey ini pada usia yang begitu belia ini”
Terdengar Aurora Meyer mengomentari diriku sambil terus memandangku dari ujung kepala sampai kaki, membuatku salah tingkah. Pakaianku yang basah sedikit gemetar oleh hawa dingin.
“lagipula paras kamu lumayan rupawan” Meyer melanjutkan, dan aku hanya berharap keremangan ruangan ini bisa menutupi rona wajahku yang memerah.

“maaf tapi tempat apa ini?” aku bertanya berusaha membelokkan pembicaraan.
“Odyssey tempat para tokoh fiksi yang sudah meninggal.” Jawab Meyer. Ia berjalan ke samping kini menjangkau sebuah pengait di dinding yang tak kusadari berada disitu.
“aku penasaran, siapa aurora yang tega menewaskan remaja charming sepertimu.”” ucapnya sambil menarik pengait itu dan sebuah gulungan kertas putih menjulur keluar dari dinding batu. Mungkin juga itu bukan kertas karena tampaknya mengkilat & tebal.
Gulungan yang disentak sepertinya tidak keluar sepenuhnya. Karena gulungan itu bisa kembali ke dalam jika sentakkan dikendurkan.

“Jumlah Aurora banyak sekali, untung saja diurutkan sesuai abjad.” Kudengar dia bergumam sambil menyentuh-nyentuh permukaan kertas.
Aku bergeser sedikit untuk melihat apa yang ada di atas kertas, tapi rasa seganku membuatku tidak bisa terlalu dekat. Rupanya permukaan kertas itu bercahaya, sedikit mirip monitor tablet.

“Siapa namamu?” dia bertanya sambil menyentuh-nyentuh permukaan kertas.
“Cedric.. Cedric Diggory”
Dia mulai menyentuh-nyetuh lagi
“ada 14 Aurora yang pernah melahirkan tokoh dengan nama itu” dia memandangku sejenak.
“di mana lokasi kamu hidup?” dia bertanya lagi
“Inggris” Jawabku

Kembali dia menyentuh permukaan kertas.
“bisa sebutkan sebuah tempat yang lebih spesifik lagi?”
“Hogwarts” Jawabku, rasa ngilu di sendi-sendiku kali ini menyerang lagi, aku sedikit meringis kesakitan. Ujung-ujung jari kakiku rasa-rasanya sudah berkerut karena menempel terus di lantai yang lembab.
Setelah menyebut nama sekolahku itu tiba-tiba aku teringat Cho Chang, gadis oriental yang memikat hatiku, kontan saja aku dilanda rindu yang teramat sangat.

“Ho… Aurora Rowling!”Seru Meyer membuyarkan lamunanku.
“Kaszt lima, satu tingkat di atasku.”

"Cedric Diggory penyihir baik hati yang mati di usia muda karena ingin menghindari persaingan kepopuleran dengan tokoh utamanya?" Meyer mulai membaca kertas itu.
"Aku tidak merasa ingin menyaingi Harry Potter." batinku bingung
"Kulihat di fabelator ini kamu hanya dihidupkan satu filsuf." Aurora Meyer berhenti sejenak, "Maukah kau jika ku hidupkan lagi?"

Hidup lagi? Aku tertegun sejenak, entah apa yang membuat Aurora Meyer begitu berbaik hati seperti ini.
"tentu.. tentu saja aku mau!"
Tempat ini terlalu membosankan & menyeramkan. terbayang wajah Cho Chang & keluargaku. aku bisa berkumpul dengan mereka lagi.

"Tapi tentu saja aku harus minta izin dulu kepada auroramu."
Kembali Meyer menghadap bentangan kertas putihnya. kali ini kerlap-kerlip kecil cahaya merah berlarian di atas permukaan kertas yang bertuliskan Aurora Rowling.

Dan tiba-tiba sebuah suara keluar dari kertas itu.
"Graxias, Aurora Rowling disini" sebuah suara perempuan menyahut dari seberang.
"Graxias madam, saya Aurora Meyer dari Balcon 13 memanggil"
"oh hi Madam,apa kabarnya?"
"baik,terima kasih . maaf mengganggu Madam tapi saat ini aku sedang bersama 1 sektomu, Cedric.. Cedric Diggory". jawab Meyer melirik ke arahku.
"oh Cedric, iya benar. Oh tentu saja Balcon 13 bagi mereka yang terbunuh oleh penjahat hitam."
"Benar madam, tapi madam koq tega mengakhiri kisah hidupnya di usia muda? hanya 1 filsuf, sedikit sekali!" Aurora Meyer sedikit memprotes

"oh seperti itulah Meyer, biarlah dia sebagai pemanis dalam Seri Harry Potterku. selain menghindari persaingan kepopuleran dengan tokoh utama, juga untuk memperkuat ceritaku bahwa orang yang pentingpun bisa mati. Tentu saja hal ini akan memberikan kesan yang sangat membumi kepada membaca" Ku dengar Rowling menyeruput sedikit air. Jangan-jangan dia sedang menikmati secangkir teh hangat. aku menelan ludah.
"Kau tahu sendiri kan Meyer, kematian itu sangatlah sakral. Jika ada tokoh penting yang sampai mati tentu akan membuat pembaca sangat terpukul. Dan aku akan sangat senang sekali jika mereka sampai menitikkan air mata. Mereka akan menganggapku sebagai penulis yang serius, tidak main-main, & tidak menjilat. Dan bahwa aku tidak akan kekurangan ide hanya dengan perginya tokoh sesempurna Cedric"

Kulihat wajah Meyer mengangguk-angguk terpantul cahaya merah dari kertas.

"Baiklah madam Rowling" Aurora Meyer kembali menjawab. "kamu memang benar-benar penulis sejati. Aku kagum. tapi jika kamu tidak keberatan aku ingin menghidupkannya kembali. tentu saja di kehidupan yang berbeda dan sebagai konsekuensinya dia akan menjadi sektoku."

ku dengar Aurora Rowling tertawa.
"madam Meyer, kenapa kamu repot-repot menghidupkannya lagi? sepertinya. kebiasaan lamamu masih belum berubah ya, masih suka dengan daun muda.." kudengar Aurora Rowling kembali terkekeh.

"Ah.. madam, bukan bukan itu" Aurora Meyer tampak salah tingkah
"Aku hanya ingin memberi dia lebih kesempatan, mengeksplorasi sedikit dirinya, ya.. walaupun aku tidak bisa menyangkal dia memang mempesona"

Ketika Aurora meyer melirik lagi ke arahku, cepat-cepat ku menengadah ke langit-langit yang suram berpura-pura tidak mendengar.
"Baiklah meyer, tidak ada yang bisa kulakukan lagi terhadapnya. Anggap ini memang keberuntungannya bertemu denganmu, sampaikan salamku padanya, katakan aku mencintainya.

Terdengar bunyi klik aneh ketika pembicaraan berakhir.

Aurora Meyer mengendurkan sentakannya & kertas putih itu menggulung kembali ke dalam dinding. Menyisakan pengait yang menjuntai keluar.
"Nah.. kamu sudah siap?"
Aurora Meyer kini sudah menghadap kepadaku
"Tapi tadi anda mengatakan kehidupan yang berbeda, aku akan hidup sebagai apa?"
"Oh iya.. aku sampai lupa!" meyer menepuk jidatnya.
"Begini.. kalau aku menghidupkanmu sebagai manusia, suatu saat kamu pasti akan mati. Bagaimana jika aku menghidupkanmu menjadi makhluk abadi, selama kamu tidak terkena sinar matahari langsung dan simpan di tempat yang kering & sejuk yaitu sebagai VAMPIRE!"

Aku bergidik, vampire? Teringat olehku buku Vakansi dengan Vampire oleh Gilderoy Lockchart yang sempat aku baca ketika kelas 4. Makhluk ini dimusuhi warga sebelum akhirnya diusir oleh (menurut pengakuannya) Gilderoy  dengan jampi-jampi & bawang putih.
Tidak ada gunanya menolak, dibanding tempat ini, menjadi vampire tidaklah terlalu buruk. Aku akan berusaha menjadi vampire baik-baik nantinya.
"Baiklah, aku siap! Sampaikan pula rasa terima kasihku pada Aurora Rowling, berkat peranku sebagai Cedric kini aku terkenal & terpilih sebagai pemeran utama serial Twilight. KINI AKU KAYA!!!HHAHA!!"

"Satu hal lagi Cedric, setelah ini namamu berganti menjadi Edward Cullun, eh salah Edward Cullen, ingat itu!" Aurora Meyer mengambil sesuatu dari balik gaunnya, mengeluarkan sebuah tongkat yang tampaknya seperti kuas untuk melukis tetapi ujung kuasnya terbuat dari emas.

Diputar-putarnya kuas itu di wajahku, dan sinar putih menyilaukan memancar di sekeliling wajahku. Silaunya Memaksaku menutup mata.
Kemudian kurasakan deru udara hangat yang hebat disekelilingku dan aku tidak merasakan lantai lembab itu lagi.
Saat deru angin berhenti ku mencoba membuka mata dan ternyata aku sudah berada di sebuah lembah dengan pemandangan pegunungan hijau disekelilingku.

 ***

"Edward.. Edward Cullen.." kudengar namaku dipanggil oleh salah satu anggota keluarga baruku. Saat ini kami bersiap-siap melakukan perburuan darah sebagai sarapan pagi ini.
"buruan... keburu terik nih..!"
"iya.. iya.. aku turun!
Aku bergegas memakai sepatu, sebelum meninggalkan kamar, ku sempatkan menatap cermin.
Tidak banyak yang berubah dengan fisikku selain well, kulitku yang sangat pucat laksana mayat!
Sekarang aku mulai belajar mengontrol hasratku terhadap darah manusia. Sebagai gantinya aku kini memburu darah hewan. Masing-masing dari kami memiliki bakat khusus, aku pribadi bisa membaca pikiran orang.

Terkadang jika sedang sendiri aku masih memikirkan Cho Chang. Entah bagaimana keadaannya sekarang, apa dia masih merindukanku ataukah sudah ada pengganti yang lain.

Bukan sekali keinginanku untuk bertandang kembali ke Hogwarts tetapi pada akhirnya harus kuurungkan pula niatku itu. Bukan apa-apa, selain jaraknya yang sangat jauh, perjalanan ke sana akan dipenuhi berbagai hambatan. Terutama sinar matahari yang bersinar sangat cerah di berbagai tempat beresiko membakar tubuhku. Belakangan aku bertemu seorang wanita yang tidak biasa. Dia manusia biasa tetapi entah mengapa aku tidak bisa membaca pikirannya. Orangnya pun lumayan menarik membuatku sangat penasaran.

Lama kelamaan aku semakin dekat dengannya. Kehadirannya ternyata mampu mengalihkan pikiranku dari Cho Chang. Nama wanita itu Bella Swan!
Sepertinya aku harus belajar melupakan masa laluku. Aku tidak ingin mengecewakan kebaikan Aurora Meyer. Biarlah Cho Chang menjadi masa laluku & Bella adalah masa depanku. Good bye Cho Chang, hope u will be joy with your new partner, and welcome my beloved Bella. 


THE END

Komentar

  1. Hahahahaha......*ngakak abis2an*
    Keren...keren...keren. Aku suka transisi Cedric ke Edward - nya

    BalasHapus
  2. Ahhhhh ga relaaa ada si cullen segala disiniii huuuhhh *tepokjidat* *salam dari twi hater* =D

    BalasHapus
  3. awesome!
    jadi ini tentang reinkarnasi cedric yang move on dari cho chang yak XD
    selamat deh buat cedric yg udah sukses jadi vampire charming, lol

    BalasHapus
  4. Huaaa panjaaaaaang..... tapi lucu juga baca reinkarnasi Cedric jadi Edward (meski saya bisa dibilang Twi-hater #eh)
    Makasih partisipasinya ya!

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

[Meme & Giveaway April 2013] Kitab Mantra Standar Karya Miranda Goshawk

[Wings #1] Telaah buku Wings (Sayap Peri) Karya Aprilynne Pike

CARA KELUAR KEANGGOTAAN GROUP DI FACEBOOK