Jumat, 05 April 2013

Kembalinya Kegemaran yang Terlupakan Bag. II (9R4m3d14)



Ngomong-ngomong, komunitas pecinta buku ini ternyata lumayan menginspirasiku. Dulu aku suka ngiler jika melihat buku-buku menarik yang terpajang di etalase toko. Mengangkat buku itu, membelai lalu membaca sinopsinya yang ada di bagian belakang. Tapi pada akhirnya kukembalikan lagi buku yang masih terbungkus rapi itu ke tempatnya semula karena aku tahu aku belum bisa memilikinya. Uang yang ada sekarang tidak bisa aku belanjakan seenaknya, karena sebagai siswa masih ada keperluan lain yang lebih “primer” yang harus dipenuhi. Dengan perasaan getir yang tertahankan, kupaksakan melupakan perasaan suka itu.

Musim pun berganti dan sekarang aku sudah disibukkan dengan rutinitas baru sebagai seorang karyawan swasta. Tapi anehnya tidak pernah sekalipun aku berkeinginan untuk mewujudkan “hasrat” yang terpendam itu. Apa mungkin karena terlalu lama aku mengubur rasa itu hingga membuatku lupa akan kegemaranku? Atau mungkin karena kesibukanku dalam memperbaiki kebutuhan-kebutuhan primerku yang terbengkalai sewaktu sekolah hingga tak terbesit untuk mulai mewujudkan mimpi-mimpi yang terpendam?

Aku tak tahu, tapi yang pasti setelah terlibat dalam kegiatan pecinta buku di Hotter Potter event ini, secara tidak langsung “mereka” mengingatkanku kembali akan “selera” membacaku. Melihat kelihaian mereka dalam merangkai kata merupakan bukti nyata bahwa membaca dan membeli buku tidak pernah salah!

“kenapa tidak terpikir olehku lebih awal setelah sekian lama aku menahannya? Dengan gajiku sekarang seharusnya aku bisa menyisihkan sebagian untuk “membayar” hobby yang aku sukai itu!"

Benar, jika aku memang harus “bersenang-senang” dengan buku maka sekaranglah saatnya. Sudah terlalu banyak buku “manis” yang aku lewatkan dan aku tidak mungkin melewatkan lebih banyak lagi. Umurku terus bertambah, jika sebagian uang, waktu dan kesempatan ingin kugunakan untuk membaca maka sekaranglah saatnya. Sebelum aku menikah lalu disibukkan dengan urusan anak dan keluarga.

Maka dengan tekad bulat, aku menetapkan dalam hati bahwa kedepannya akan selalu ada buku di rumah yang menunggu untuk dibaca. Dan hal itu akan menjadi mungkin jika setiap bulan aku membeli buku baru tentu saja. “Oke Not Bad!” pikirku.

Aku juga teringat bahwa ternyata semenjak Gramedia hadir di Gorontalo, belum pernah satu bukupun yang aku beli darinya. Oh Men.. How bad I am! Tidak sadarkah aku bahwa tidak semua daerah punya toko buku Gramedia yang “asli”? Seharusnya aku bersyukur bisa membeli buku-buku bagus dari “toko bagus”itu.

“Aduh lama banget gajian!” Ujarku saat melihat lembaran kalender yang menempel di dinding. Saat itu bertepatan tanggal 22 Februari dan itu artinya 6 hari lagi baru gajian. Jika di waktu-waktu biasa 6 hari dianggap semakin dekat, maka saat mengharapkan sesuatu malah membuatnya menjadi terasa lama.

Hasratku sudah sangat membuncah! Ibarat dahaga ingin segera disiram dengan air dingin sesejuk embun, dan air itu adalah buku! Buku yang aku rindukan! Buku yang sempat aku tengok di etalase Gramedia saat jalan-jalan di Mall Gorontalo dan sekarang seperti memanggil-manggilku kembali dari kejauhan.

“I Can’t take it any longer!” Ujarku. “Maafkan aku ATM, aku sepertinya tidak bisa menunggu untuk gajian. Rasanya sudah terlalu lama aku menahan ini, Besok mungkin saldomu harus berkurang demi aku, si empu mu yang lagi “galau”!

Akhirnya aku tidur malam itu dengan penasaran menunggu kejadian esok hari yang bakal menjadi titik balik sejarah dalam hidupku! WOOOH LEBAY! HEHEH

***

KKuruyuukkk…!!! Suara ayam berkokok, membangunkanku dari tidur panjangku.. eh tidak! Sepertinya bukan begitu karena aku tidak terbangun dengan suara kokok ayam. Aku mungkin terlalu terinfluence oleh kata-kata buku.  Mungkin seperti ini:

Seberkas sinar matahari jingga yang hangat menyeruak melalu celah jendela kamarku, jatuh tepat di wajahku. Karena mendadak pelupuk mataku menjadi terang, aku pun terjaga dan mengerjap-ngerjap berusaha membuka mata. Tapi yang terjadi malah aku memutar tubuhku membelakangi sinar itu dan memeluk lagi gulingku. Yah… dia malah tidur lagi! BANGUN DODOL! GAK INGAT APA.. HARI INI KAMU BAKAL MEWUJUDKAN MIMPI-MIMPIMU???

Oh.. iya.. segera saja aku menegakkan tubuhku masih dengan mata terpejam ku buka jendela-jendela itu, memberikan jalan bagi sinar-sinar itu untuk masuk lebih banyak lagi ke dalam kamarku. Aku suka sekali pemandangan di pagi hari. Warna-warna yang aku lihat dibalik jendela terasa jelas dan terang. Seperti baru dicuci kembali oleh embun semalam.

Kulakukan ritual pagiku seperti biasa, dan setelah berdandan yang sepantasnya, segera saja ku genjot motorku melaju membelah kota Gorontalo yang tercinta. Rencanaku hari itu adalah menuju Mesin ATM terdekat  kemudian meluncur ke Gramedia yang tidak berapa jauhnya dari lokasi ATM tersebut.


Pukul 10 Pagi aku sudah berada di mesin ATM. Setelah memegang  uang yang dirasa cukup kulanjutkan perjalanan menuju Gramedia. Hawa dingin yang keluar dari Air Conditioner Mall menyapu kulitku saat melangkahkan kaki di pintu masuk Mall Gorontalo. Agak canggung juga sih melihat orang-orang di sekitar menatapku seakan-akan mereka bisa menebak maksudku ke Mall itu. Setelah menaiki tangga eskalator ke lantai dua akhirnya aku tiba juga di depan gerbang Toko Gramedia.
Ah.. kini buku-buku itu tampak lebih  indah sekarang. Mungkin karena  aku akan segera memiliki satu dari sekian itu. Aku menyusuri rak-rak buku dan segera saja aku sudah berada di seksi Novel.

Kuperhatikan satu persatu cover-cover buku yang ada disitu. Tidak jarang aku mengambilnya untuk membaca sinopsis yang berada di belakangnya. Hingga akhirnya mataku tertuju pada sebuah buku bercover biru yang aku kenal. Karena sebelumnya aku memang telah berselancar di situs Gramediaonline.com untuk mencari referensi buku apa yang layak menjadi buku “pertama”ku.

Terlalu mengada-ada jika ini disebut buku pertama karena sebelumnya aku sudah punya buku Ketika Cinta bertasbih, Di atas Sajadah Cinta, dan Change Now! Jurus Dahsyat Muslim Huebat (BookMagz).


Buku yang aku lihat itu berjudul Raphael. Aku tertarik setelah membaca sinopsisnya yang mengetengahkan kehidupan tokoh bernama Leo yang hampir mirip dengan kondisiku saat ini. Memiliki karier yang biasa-biasa saja, susahnya bergaul dengan orang, hubungan dengan orang tua yang kurang harmonis dan lain-lain. Merasa aku dapat memetik sesuatu darinya, akhirnya terpilihlah buku Raphael buah karya Yuki Rustam menjadi buku pembuka Hobi yang terlupakan.

Merasa puas dengan pilihanku itu, akhirnya aku meninggalkan Mall Gorontalo dengan langkah ringan menuju parkiran motor. Dalam perjalanan pulang aku hanya tersenyum dan merasa tidak sabar ingin segera menyelami cerita Novel baruku tersebut.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar